Showing posts with label rumput laut. Show all posts
Showing posts with label rumput laut. Show all posts

Friday, October 17, 2008

REGENERASI BEBERAPA VARIETAS RUMPUT LAUT MELALUI KULTUR JARINGAN MENGGUNAKAN MEDIA MS (Muraishige and skoog)

Abstrak

Dalam mengantisipasi kebutuhan mendatang, kami mencoba mengadaptasikan perkembangan bioteknologi yang ditunjukkan dalam manipulasi tanaman lebih tinggi (Torrey, 1985). Teknologi ini akan menjadi kunci penjinakan ganggang laut dan transformasi mereka ke dalam tanaman olahan. Dengan menggunakan teknik ini, maka memungkinkan untuk secara vegetatif mengembangbiakkan sejumlah besar tanaman baru dari jaringan vegetatif ganggang laut yang dipilih. Ketika dipisahkan, sel ganggang laut dapat diperlakukan sebagai sel organisme tunggal untuk produksi dan seleksi mutan dan untuk menggabungkan ciri-ciri dari tanaman berbeda melalui hibridisasi somatis dan teknik pengaturan genetik lainnya (Drumond, 1933, Gleba dan Hoffman 1979, Polne-Fuller dan Gibor, 1984, 1987).

Eksplan yang digunakan diambil dari rumput laut jenis cottoni, Eksplan diambil pada bagian pangkal, tengah dan pucuk. Masing-masing eksplan akan dipotong dengan panjang sekitar 5,0 mm. Sekitar 50 potongan eksplan pada setiap bagiannya, ditempatkan dalam gelas kimia 1000 ml. Eskplan tersebut selanjutnya disterilisasi dengan cara mencucinya menggunakan 1000 ml larutan yang mengandung 1% (W/V) chlorine NaClO, 5 -7 tetes tween-20, dan digoyang 100 rpm selama 5-7 menit. Selanjutnya, eksplan dibilas lagi dengan larutan dichloroisocyanuric acid 1%, dan dibilas 6 kali dengan air steril. Setiap kali pembilasan, digoyang dengan kecepatan 100 rpm selama 5 menit. Pada media MS5PG (media MS dan vitamin MSO, sukrosa 3%, agar 0,8%, 1 mg ml-1 glutamin, dan 5 mg L-1 picloram selama 4 minggu. Selanjutnya, eksplan disubkultur pada media MS3PG (seperti kandungan media MS5PG hanya saja dengan 3 mgL-1 picloram pada suhu 28o C tanpa cahaya matahari. Subkultur dilakukan setiap 2 minggu sekali sampai terbentuk embrio. Embrio yang berwarna putih susu, bertipe torpedo atau heart-shape, dengan ukuran 1-2 mm dan diameter 0,5-1 mm dipindahkan ke media MSC (media dan vitamin MSO, sukrosa 2%, agar 0,8% dan 1 g L-1 Charcoal) selama sebulan. Selanjutnya, planlet dipindahkan ke media MS10 (media dan vitamin MSO, sukrosa 2%, agar 0,8% dan 10 mg L-1 BAP) sampai terbentuknya planlet setinggi 2-4 cm. Tahap selanjutnya, tanaman dipindahkan ke media MSOR (media dan vitamin MSO, sukrosa 2%, agar 0,8% dan NAA 1 mg L-1).


Friday, October 10, 2008

STUDI PENDAHULUAN PENGGUNAAN TEKNIK KULTUR JARINGAN DALAM PEMBIBITAN RUMPUT LAUT


Abstraksi

Salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomis penting dan merupakan komoditas unggulan untuk meningkatkan devisa negara, serta dapat meningkatkan inkam bagi masyarakat khususnya masyarakat pesisir pantai adalah rumput laut. Potensi pengembangan budidaya rumput laut di kawasan Indonesia masih sangat terbuka lebar, akan tetapi hasil produksi yang kita hasilkan belum sebanding dengan potensi yang ada, salah satu faktor penyebab permasalahan tersebut antara lain adalah ketersediaan bibit yang sangat kurang. Perlunya metode pembibitan yang baik sehingga tidak menggantungkan bibit dari alam.

Penggunaan teknik kultur jaringan dalam pembibitan rumput laut ini diharapkan mampu menghasilkan bibit yang berkualitas dalam skala massal dan dalam waktu yang relatif singkat, untuk memenuhi ketersediaan bibit tanpa dibatasi siklus musiman, menemukan teknik kultur jaringan yang adaptif dan efisien, sehingga dapat dilakukan oleh seluruh lapisan. Studi pendahuluan teknik kultur jaringan ini mulai dilaksanakan pada bulan juni 2004 di laboratorium kultur jaringan Loka Budidaya Laut Lombok.

Dalam studi pendahuluan kultur jaringan ini dilakukankan dengan menggunakan metode metode padat (solid Method) yaitu metode yang menggunakan media agar dengan komposisi bacto agar 0.8 % dari total air, dan diformulasikan dengan pupuk conway 4 ppm dengan ketebalan 5 mm. Setelah itu dilanjutkan dengan metode cair (liquid method) yaitu metode yang menggunakan air laut dengan salinitas 29-33 promil yang di formulasikan dengan puppuk ZA, UREA dan TSP dengan tempat media yaitu botol kaca kapasitas 2.5 liter.

Hasil dari studi pendahuluan teknik kultur jaringan ini merupakan tahapan untuk diaplikasikan dalam laboratorium kultur jaringan Loka Budidaya Laut Lombok, dan diharapkan mampu untuk menegasikan bahwa bibit rumput laut yang unggul hanya bisa didapatkan dari pembibitan dari alam.

lebih lanjut contak kami